Warna kuning pada kuning telur bubuk sering dianggap sekadar aspek estetika, padahal konsistensi warna ini menjadi indikator penting kualitas produk bagi banyak produsen makanan. Warna yang memudar atau tidak seragam antar-produksi bisa membuat produk akhir terlihat kurang menarik meski kandungan gizinya tidak berubah.
Penelitian yang dipublikasikan di PMC menemukan bahwa suhu penyimpanan secara signifikan memengaruhi tingkat retensi lutein, pigmen utama pembentuk warna kuning telur, dengan kehilangan pigmen yang lebih besar terjadi pada suhu ruang dibanding suhu dingin. Temuan ini menegaskan bahwa stabilitas warna kuning telur sangat bergantung pada bagaimana produk ditangani setelah diproses.
Artikel ini mengulas cara menjaga stabilitas warna kuning telur bubuk, mulai dari asal warnanya hingga faktor yang menyebabkannya memudar. Anda juga akan menemukan cara mengukur warna secara objektif serta langkah pencegahan yang bisa diterapkan produsen.
Dari Mana Warna Kuning pada Kuning Telur Bubuk Berasal?
Warna kuning pada kuning telur berasal dari pigmen karotenoid, khususnya lutein dan zeaxanthin, yang termasuk dalam kelompok xantofil. Ayam petelur tidak bisa memproduksi pigmen ini secara alami, sehingga warna kuning telur sepenuhnya bergantung pada kandungan xantofil dalam pakannya.
Pigmen ini kemudian terbawa ke dalam kuning telur segar, dan tetap ada saat telur diolah menjadi bentuk bubuk melalui proses pengeringan. Karena berasal dari pakan, intensitas warna kuning telur bisa bervariasi antarpemasok tergantung pada sumber pakan yang digunakan peternak masing-masing.
Bagaimana Warna Kuning Telur Diukur secara Objektif?
Warna kuning telur umumnya diukur menggunakan dua metode, yaitu Roche Yolk Color Fan yang membandingkan warna dengan skala visual 1 hingga 15, atau kolorimeter yang menghasilkan nilai numerik Lab*. Nilai b* pada sistem ini secara khusus menunjukkan tingkat kekuningan, sehingga menjadi acuan paling relevan untuk memantau stabilitas warna kuning telur bubuk.
Faktor yang Menyebabkan Warna Kuning Telur Bubuk Memudar dan Cara Mencegahnya
Warna kuning telur bubuk bisa memudar akibat sejumlah faktor yang saling berkaitan selama proses maupun penyimpanan. Berikut rincian faktor penyebabnya beserta cara mencegahnya.
| Faktor | Penyebab Memudarnya Warna | Cara Mencegahnya |
|---|---|---|
| Suhu tinggi | Suhu tinggi memicu reaksi pencokelatan nonenzimatis yang merusak struktur karotenoid | Kontrol suhu pengeringan dan penyimpanan agar tidak berlebihan |
| Paparan oksigen | Karotenoid sangat sensitif terhadap oksidasi saat terpapar udara terbuka | Gunakan kemasan dengan penghalang oksigen yang baik |
| Paparan cahaya | Cahaya mempercepat degradasi pigmen selama penyimpanan maupun distribusi | Simpan dalam kemasan buram atau ruang penyimpanan yang minim cahaya |
| Durasi penyimpanan yang lama | Kandungan lutein tetap menurun meski disimpan dalam kondisi dingin, meski laju penurunannya lebih lambat | Terapkan sistem FIFO agar stok lama tidak tersimpan berlarut-larut |
Keempat faktor ini menunjukkan bahwa stabilitas warna kuning telur bubuk sebenarnya berkaitan erat dengan prinsip penyimpanan dan pengemasan yang sama untuk menjaga mutu tepung telur secara keseluruhan. Mengendalikan suhu, oksigen, cahaya, dan durasi penyimpanan secara bersamaan menjadi cara paling efektif mempertahankan warna kuning yang konsisten.

Kesimpulan
Warna kuning telur bubuk berasal dari pigmen karotenoid seperti lutein dan zeaxanthin yang rentan memudar akibat suhu tinggi, oksidasi, cahaya, dan penyimpanan yang terlalu lama. Menjaga stabilitas warna ini membutuhkan pengendalian pada seluruh faktor tersebut secara bersamaan, bukan hanya salah satunya.
Pengukuran warna secara objektif, baik melalui Roche Yolk Color Fan maupun kolorimeter, membantu produsen memantau konsistensi warna dari waktu ke waktu. Konsistensi ini pada akhirnya memengaruhi penerimaan produk akhir di mata konsumen, terutama untuk produk yang mengandalkan tampilan warna kuning sebagai daya tarik.

FAQ
Tidak selalu, karena intensitas warna lebih dipengaruhi oleh jenis pakan ayam, bukan indikator langsung dari kandungan gizi maupun keamanan produk.
Tidak bisa, karena degradasi karotenoid bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan setelah terjadi.
Durasinya bervariasi tergantung kondisi penyimpanan, namun umumnya lebih stabil pada suhu dingin dibanding suhu ruang.
Berpengaruh besar, karena kemasan yang buram dan kedap oksigen membantu memperlambat degradasi pigmen akibat cahaya dan udara.
Tidak selalu sama, karena intensitas warna bergantung pada sumber pakan ayam petelur dari masing-masing pemasok.

Produsen Tepung Telur Berkualitas
Accelist Pangan Nusantara adalah produsen tepung telur Indonesia yang berkomitmen menghadirkan bahan pangan berkualitas tinggi, bebas Salmonella, bersertifikat Halal, dan siap mendukung kebutuhan dapur komersial Anda.

